Linux, Cinta yang Berawal dari Benci

Saya sangat tidak suka dengan Linux. Saya menganggap Linux itu repot, sulit dimengerti, dan lambat. Contoh, untuk membuka salah satu aplikasinya yaitu Open Office saja loadingnya lama sekali. Oleh karena itu, saya tidak mau berurusan dengan Linux. Dan memang teman-teman saya tidak ada yang memakai Linux. Bagi saya, Linux benar-benar sesuatu yang asing. Linux? Apaan tuh..

Tapi itu dulu…

Dan sungguh benar kata orang tua, tak baik membenci sesuatu dengan sangat, sebab mungkin rasa itu akan berubah menjadi cinta

Lama waktu berlalu..Zaman berubah.. Musim berganti.. dan karena suatu hal, belum lama ini tiba-tiba saya bertemu kembali dengan Linux..

Bermula sekitar dua bulan lalu, yaitu ketika saya memutuskan untuk membeli notebook. Saat itulah saya melihat ada OS yang tidak saya kenal terinstal di Notebook DELL 1420. Waktu itu saya bingung dengan keterangan penjualnya, katanya itu Linux. Lho Linux kok ga ada gambar pinguinnya? Bagi saya, Linux ya Pinguin, seperti Windows yang identik dengan logo Jendela. Trus kenapa warnanya coklat? Soalnya seingat saya Linux yang pernah saya lihat berwarna biru. Sampai-sampai saya berpikir, mungkin Linux sudah ganti kulit ya? hehe.. Pada akhirnya, bukan notebook DELL tersebut yang saya beli. Tapi pertemuan singkat tersebut mampu menggoreskan rasa penasaran di hati saya.

Sejak saat itu, saya mencari info tentang Linux di Internet. Saya sedikit demi sedikit mencoba memahami apa Linux itu, yang ternyata adalah sebuah kernel (saya bahkan tidak tahu apa pengertian kernel itu, haha..), juga mempelajari distro-distro (distribusi paket) Linux yang banyak sekali macamnya. Saking banyaknya, saya bahkan tidak tahu mau mulai darimana. Akhirnya saya mencoba kata kunci “distro linux untuk pemula”, dan beberapa yang direkomendasikan  di blog yang saya baca adalah Ubuntu, Linux Mint, Mandriva, OpenSuse, dan untuk distro dari Indonesia banyak yang merekomendasikan BlankOn.

Dari pilihan distro yang disebutkan di Internet, ada satu yang menarik perhatian saya, yaitu Ubuntu. Mengingatkan saya pada OS yang terinstal di Notebook DELL saat pameran. Ternyata memang benar, OS itulah yang saya lihat ketika itu. Saat mengunjungi situsnya di http://www.ubuntu.com, bertambahlah rasa tertarik saya, apalagi kalau bukan karena penawaran CD Ubuntu gratis dengan wilayah kirim ke seluruh dunia. Singkat kata, saya memesan CD Ubuntu lewat situs tersebut, yang Alhamdulillah saat ini sudah saya terima, dalam waktu kurang dari satu bulan sejak tanggal pemesanan.

Bagaimana kelanjutan kisah saya dengan Ubuntu? Jadikah distro itu yang saya pilih? Masihkah Open Office selambat dahulu? Kejutan apa yang saya temukan? Mungkinkah saya jatuh cinta atau malah makin benci pada distro Linux yang bernama Nicholas Saputra Ubuntu? Nantikan lanjutan ceritanya…

Powered by ScribeFire.

Satu pemikiran pada “Linux, Cinta yang Berawal dari Benci

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s