Ingin Tapi Tak Punya, Punya Tapi Tak Ingin

Dalam hidup, adakalanya, apa yang kita inginkan tidak kita punyai. Adakalanya pula, apa yang kita punyai tidak kita inginkan.

Tunggu.. tunggu.. Saya tidak sedang bicara soal cinta, ini tentang Pemilu lho.

PEMILU? GAG SALAH?? EMANG PEMILU PUNYA TOPIK SEPUITIS ITU?? JANGAN-JANGAN SALAH POSTING?

Ups.. Bener lagi.. Saya tidak sedang ngelantur. Ini benar-benar soal pemilu. Lebih tepatnya, tentang hak warga negara dalam memberikan suaranya di pemilu.

Sehari sebelum pemilu, teman saya cerita mengungkapkan kekecewaannya karena dia belum mendapatkan kartu tanda pemilih. Ternyata, namanya belum terdaftar dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap). Padahal, dia ingin jadi bagian dari sejarah Indonesia. Sejarah perubahan dari pemilu nyoblos ke pemilu nyontreng maksudnya, hehe.. Walaupun motivasinya agak unik, tapi saya menghargai semangatnya untuk memberikan hak pilihnya di sela-sela kesibukannya sebagai ibu dari dua anak yang masih balita.

Akhirnya, di hari-H teman saya itu hanya bisa berdiam diri di rumah, di saat warga yang lain berbondong-bondong pergi ke TPS. Dari televisi, baru saya ketahui kalau teman saya tidak sendirian, di berbagai tempat lain di Indonesia, cukup banyak warga yang namanya tidak terdaftar dalam DPT, padahal sebenarnya mempunyai hak pilih. Namun bedanya, kalau teman saya cuma pasrah menerima nasibnya, warga yang lain tersebut ada yang tidak terima. Ada yang datang ke TPS, protes ke panitia karena jadi tidak bisa memilih, bahkan ada yang sampai ngamuk-ngamuk, menuntut supaya tetap bisa ikut memilih.

Namun… Dari televisi pula, saya juga jadi tahu kalau ternyata tidak semua warga negara yang mempunyai hak pilih dan memiliki kartu tanda pemilih mau memberikan suaranya pada Pemilu Legislatif kemarin. Orang-orang tersebut memutuskan untuk tidak memilih dalam pemilu kemarin dengan berbagai alasan. Ada yang apatis karena kecewa dengan kinerja DPR selama ini. Ada yang tidak mau memilih karena merasa tidak mengenal para Caleg yang mencalonkan diri dalam pemilu kali ini. Ada juga yang tidak mau datang ke TPS saat Pemilu kemarin karena memilih memanfaatkan liburan empat hari untuk pergi ke tempat wisata atau sekalian pulang kampung.

Saya bukannya mau mempermasalahkan orang-orang yang tidak mau memilih, merupakan hak mereka untuk memilih atau tidak memilih dalam pemilu legislatif ini. Hanya saja, kalau teringat teman saya yang punya semangat 45 untuk memilih, juga orang-orang lain yang ingin memberikan hak pilihnya tapi tak bisa, saya jadi merasa ini adalah sebuah ironi. Di satu sisi, ada orang-orang yang mau memilih tapi karena keadaan jadi tak bisa. Di sisi lain, ada orang-orang yang sebenarnya bisa ikut memilih, tapi tak mau..

Yang jelas, pemilu legislatif sudah berlalu, kita tinggal menunggu hasilnya. Saya cuma berharap dalam menghadapi Pilpres mendatang, penyelenggara pemilu lebih siap lagi dalam mendata warga yang berhak ikut pemilu. Jangan sampai ada warga yang namanya terlewat lagi seperti dalam dalam pemilu legislatif kali ini. Ini penting supaya setiap warga negara yang berhak memilih dapat memperoleh hak pilihnya, supaya tidak ada lagi yang namanya gelombang protes dari warga yang namanya tidak tercantum dalam DPT, juga supaya teman saya dapat bercerita dengan bangga kepada anak-anaknya, kalau ibunya turut menjadi bagian dari pilpres perdana yang dipilih dengan cara mencontreng.

Pilpres tinggal dalam hitungan bulan, siap-siap yok menentukan pilihan kita..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s