Bahasa Wonosobo, Beda!

Tulisan ini terinspirasi tulisan Pak Koprem ketika saya blogwalking ke blog beliau. Di blognya, Pak Koprem menuliskan beberapa kata yang merupakan kata-kata khas dari wonosobo. Kalau dipikir-pikir, benar juga kalau dibilang bahasa wonosobo itu unik. Artinya, walaupun bahasa yang digunakan tetap bahasa jawa, tapi banyaknya variasi kata yang digunakan membuat bahasa wonosobo sering kurang dipahami oleh penutur bahasa jawa dari daerah lain, bahkan jika orang itu dari kota tetangga sebelah seperti temanggung atau banjarnegara. Oleh karena itu ketika saya merantau ke bogor, praktis bahasa wonosobo tidak saya gunakan kecuali ketika bertemu teman-teman sedaerah. Untuk berbicara dengan orang jawa dari kota lain, saya menyesuaikan diri dengan menggunakan bahasa jawa pakem solo/jogja. Atau kadang-kadang menggunakan bahasa jawa timuran, terpengaruh beberapa teman saya yang berasal dari sana.

Dalam penggunaannya, bahasa wonosobo sendiri tidak bisa dikatakan seragam, artinya masih terdapat perbedaan istilah dari tiap-tiap kecamatan atau bahkan tiap desa. Itulah yang menyebabkan kosakata bahasa wonosobo menjadi luas. Berikut ini adalah kata-kata yang biasa diucapkan oleh orang wonosobo yang belum tentu dijumpai di tempat lain. Sebagian saya ambil dari tulisan Pak Koprem, sebagian saya tambahkan sendiri.

A

Andak, Nda’ an : masa sih? Merupakan ungkapan tidak percaya/ingin memastikan

Alah nggere (atau biasa diucapkan nggere saja) : ah masa. Huruf e pertama diucapkan seperti e pada emas, huruf e kedua seperti e pada enak.

Anyes : dingin. Huruf e diucapkan seperti e pada emas

Are’ : mau. Huruf e diucapkan seperti e pada emas. Merupakan variasi dari kata arep

B

Boli : pulang (digunakan oleh orang kalibeber dan sekitarnya). Huruf o diucapkan seperti o pada bola

C

Cendhek : pendek. Huruf e pertama dan kedua diucapkan seperti e pada emas.

Cendhe’ : pendek. Merupakan variasi pengucapan dari kata cendhek. Kali ini huruf e kedua diucapkan seperti e pada bebek dan huruf k diganti ‘ (huruf k diucapkan tipis)

Cepak/cepa’ : dekat. Huruf e seperti e pada emas

Ciwek : cengeng. Huruf e diucapkan seperti e pada bebek

D

Dheke/dhe’ e: kamu. Huruf e pertama dan kedua seperti e pada enak. Di beberapa daerah digunakan kata sira, seperti di beberapa tempat di sapuran. Atau kata kowe yang digunakan di daerah wadaslintang dan sekitarnya.

Donge : harusnya. Huruf o diucapkan seperti o pada onggok, huruf e diucapkan seperti e pada enak

E

Enyong/nyong : saya. Huruf e diucapkan seperti e pada emas. Huruf o diucapkan seperti o pada sendok.

G

Gandhul: pepaya. Huruf u diucapkan menjadi o pada kata bola. Saya masukkan ke bahasa khas wonosobo karena penutur bahasa jawa di luar wonosobo menggunakan kata kates untuk menyebut pepaya.

Gelis : buruan/cepat. Huruf e diucapkan seperti e pada emas

H

Ha’ : mau
Contoh: Ha’ ngapa si nganti ndadak lunga mrana? (mau apa sih sampai harus pergi kesana?)

Ho’oh :iya

J

Jidor : biarin

K

Kawus : rasain. Huruf u diucapkan menjadi o pada bola. Digunakan di daerah wadaslintang dan sekitarnya.

Kon : Sih. Kata penegasan. Huruf o diucapkan seperti o pada kolong. Digunakan di daerah wadaslintang dan sekitarnya.
Contoh: kowe kon ribut bae, nyong dadi ora krungu (kamu sih ribut aja, saya jadi tidak mendengar)

L

Li : kata penekanan, artinya kurang lebih lebih sama dengan donk
Contoh: aja kayang kono li.. (jangan seperti itu donk..)

M

Mayo/mage : ayo. Huruf o diucapkan seperi o pada bola, huruf e diucapkan seperti e pada enak

Mberuh : tidak tahu. Kependekan dari mbuh ora weruh. Huruf e diucapkan seperti e pada emas, u diucapkan seperti o pada bola

Memper : pantas. Huruf e pertama diucapkan seperti e pada bebek, huruf e kedua seperti e pada emas.

Contoh: memper dheke betah dolan mrana, akeh kancane si(pantas kamu betah main ke sana, banyak temannya sih)

Mendi : mana/kemana
Contoh : Mendi si , dene tak goleti ora ana? (mana sih, kok saya cari tidak ada?)
Rika pan mendi? (kamu mau kemana?)

Muluk : terbang. Huruf u dibaca seperti o pada bola.

Contoh: angger angine gedhe layangane bisa muluk dhuwur (kalau anginnya besar layang-layangnya bisa terbang tinggi)

Muluk-muluk: lonjak-lonjak

Contoh: bayine kesenengen diabani nganti muluk-muluk (bayinya senang sekali diajak bercanda sampai lonjak-lonjak)

N

Ndais : syukurin/rasain

Ndeprok : duduk tanpa alas. Huruf e diucapkan seperti e pada enak, huruf o seperti o pada sekop

Njagong/njagok : duduk. Huruf o diucapkan seperti o pada borong.

P

Porah : biarkan saja. Huruf o diucapkan seperti o pada bola

Prige : bagaimana. Huruf e diucapkan seperti e dalam enak

S

Si : sih, kan. Merupakan kata penegas.

Contoh : Dhe’e si dikandhani ora manut, dadine kaya ngene (kamu sih dibilangin tidak percaya, jadinya seperti ini)

Kayane omahe cepak stasiun, ho’oh si? (Sepertinya rumahnya dekat stasiun, ya kan?)

Siki : sekarang

Z

Zakin, Za ora: berasal dari kata yakin dan ya ora (ya tidak). Bukan merupakan kata baru. Orang-orang di beberapa daerah di wonosobo mengucapkan huruf y seperti huruf z.

Sebenarnya masih banyak lagi kata-kata khas wonosobo. Tapi karena keterbatasan pengetahuan saya dan begitu banyaknya variasi kata dan pengucapan dalam bahasa wonosobo, maka belum semuanya bisa saya muat di sini. Apabila ada yang mau menambahkan, akan saya terima dengan senang hati.

Ayo sedulur.. bareng-bareng nyebarake bahasa wonosobo neng seantero nuswantara..

22 pemikiran pada “Bahasa Wonosobo, Beda!

  1. Orang tidak dilahirkan sebagai wanita, melainkan menjadi wanita. Kata-kata ini ditulis oleh Simone de Beauvoir, dalam bukunya The Second Sex, yang terbit tahun 1949 di Perancis. Jelas bahwa konsep de Beauvoir adalah eksistensialis. Menjadi wanita artinya seorang wanita itu bebas untuk memilih, dan tidak bisa ditentukan sebelumnya menjadi wanita seperti apa. Ini sejalan dengan konsep pokok eksistensialist bahwa “eksistensi mendahului essensi”. Artinya manusia dalam hal ini wanita tidak berkembang sesuai dengan satu essensi yang sudah ditentukan sebelumnya, seperti ketika seorang tukang membuat lemari, melainkan berkembang bebas tanpa bisa dipastikan. Ketika membuat lemari misalnya, seorang tukang sudah mempunyai gambar, seperti apa lemari ini nantinya. Ini tidak bisa terjadi pada perkembangan manusia. Manusia adalah makhluk bebas yang selalu berhadapan dengan berbagai kemungkinan pilihan yang tidak terbatas dan karena itu tidak bisa ditentukan sebelumnya.

    Konsep ini sepintas tampak sejalan dengan apa yang terkandung dalam bahasa Kedang. Seperti dikatakan dalam artikel sebelumnya, “Pria dan Wanita dalam Bahasa Kedang,” bahwa dalam bahasa Kedang, wanita dilahirkan sebagai areq rian (perempuan besar) dan kemudian menjadi areq weriq (perempuan kecil), dan terakhir menjadi weq rian (badan besar). Sepertinya dalam konsep ini, wanita tidak dilahirkan sebagai wanita, melainkan menjadi wanita. Tetapi apa artinya menjadi wanita?

    Menjadi wanita dalam konsep bahasa Kedang tidak seperti yang dimaksudkan de Beauvoir. Konsep menjadi wanita dalam bahasa Kedang di sini, tampaknya selalu dalam ketersandingan dengan pria. Artinya walaupun tidak dilahirkan sebagai wanita melainkan menjadi wanita, essensi wanitanya sepertinya sudah jelas, yakni areq weriq dan nantinya weq rian, walaupun itu pun masih tetap menjadi bagian pilihan. Memang betul bahwa orang tidak dilahirkan sebagai wanita, melainkan menjadi wanita. Tetapi menjadi wanita di sini berarti menjadi weq rian, suatu essensi yang sudah ditetapkan dalam masyarakat.

    Seperti sudah dikatakan, bahwa dalam bahasa Kedang laki-laki lahir sebagai anaq abe (laki-laki kecil) menjadi ebe abe (laki-laki muda) dan ate rian (orang besar) ketika dia menjadi suami. Bila kita menyandingkan dua model perkembangan ini, akan tampak bahwa bahasa Kedang sedikit banyak menggambarkan perkembangan fisik dan psikologis manusia. Wanita memang lebih cepat bertumbuh daripada pria, termasuk perkembangan psikologisnya. Pantas kalau laki-lakinya masih kecil (anaq abe), perempuannya sudah lebih cepat besar dan dewasa (areq rian). Tetapi ketika seorang pria menjadi laki-laki perkasa (ebe abe), wanita justru menjadi gadis mungil (areq weriq). Dan akirnya laki-laki (ebe abe) hanya menjadi ate rian (orang besar) ketika dia menjadi suami seorang wanita.

    Walaupun tidak benar-benar sejalan dengan pemikiran de Beauvoir, konsep bahasa Kedang juga tidak sepenuhnya sejalan dengan apa yang ditentang Jane Austin seorang wanita penulis sebelumnya, bahwa wanita hanya menjadi orang ketika mendapat perhatian dari pria. Dalam bahasa Kedang pria atau laki-laki justru baru menjadi ate rian (orang besar) ketika berhadapan dengan perempuan. Berarti perempuan justru yang membuat laki-laki menjadi orang besar. Suami atau pria yang sudah beristeri dalam bahasa Kedang disebut ate rian, yang harafiahnya berarti orang besar.

    Berarti dalam bahasa Kedang memang ada nuansa ketidak-setaraan jender, tetapi sebenarnya tidak separah yang ditentang baik oleh de Beauvoir maupun Jane Austin. Tampak ada semacam rsiprositas gender yang ditunjukkan dalam bahasa Kedang. Itu berarti kalau terjadi kesenjangan atau ketidak-setaraan gender yang terlalu besar dalam masyarakat Kedang, maka bisa disimpulkan bahwa ada kemersotan dalam perkembangan pemikiran mengenai gender dalam masyarakat Kedang, kalau tidak mau dikatakan bahwa kemungkin ada pengaruh yang datang dari luar.

    Dalam masyarakat dan budaya Kedang mesti ada resiprositas yang progresif dan sinergik. Artinya pertemuan pria dan wanita harus membawa arti dan signifikansi baru bagi kedua pihak. Bahwa pria hanya menjadi ate rian (orang besar) ketika menjadi suami seorang wanita. Dan wanita hanya menjadi weq rian (badan besar) ketika menjadi isteri dari seorang pria. Artinya bahasa Kedang tidak membenarkan bahwa wanita hanya menjadi manusia ketika diperhatikan pria, karena pria juga hanya menjadi manusia utuh kalau diperhatikan wanita.

    Perbedaan kecil ini kiranya tidak untuk merendahkan martabat wanita melainkan sebagai konsekuensi dari pola masyarakat patriarkhal. Dalam pola ini pria harus menjadi kepala, pemimpin, pengayom dan sebagainya; tetapi ini hanyalah masalah perbedaan dalam pemberian dan pelaksanaan fungsi yang diatur berdasarkan kemampuan dan energi, bukan atas dasar perbedaan martabat. Maka ketidak-adilan, kekerasan, keputusan sepihak dalam rumah tangga, jelas tidak sesuai dengan konsep gender dalam bahasa dan budaya Kedang karena melanggar martabat manusia. Segala sesuatu yang menyangkut fungsi dalam rumah tangga atau masyarakat harus dibicarakan bersama dalam dialog yang jujur, setara, dan demokratis.

    Apakah praktik belis atau mahar pernikahan tidak sejalan dengan konsep bahasa ini? Sebenarnya tidak, lantaran dalam praktiknya, belis memang datang dari pihak pria, tetapi selalu ada balasan dalam bentuk lain yang harus diserahkan juga oleh pihak wanita kepada pihak lelaki. Jadi sebenarnya ada unsur timbal balik. Apa lagi konsep belis sebaiknya dibicarakan dalam konteks keluarga yang lebih besar atau suku. Mungkin ini bisa menjadi tema pembahasan di lain kesempatan.

  2. nyong wong wonosobo kuliah nang semarang… oleh tugas ngangkat bahasa rakyat … artikele iki nrewangi nyong mbeti… suwon ya..😀

  3. saya orang lombok juga seneng bahasa wonosobo ini dan logatnya,..kita merasa terhibur dan diterima secara baik dengan bahasanya.saya jd kepingin bisa bahasa wonosobo dan logatnya,..bersahaja bgt,..natural,..

  4. Apik timen…sbg wong wonosobo nyong bangga, contone: pas sekolah (kuliah) nang salatiga basa sing tak nggo tetep basane dewek (wadaslintang,-red)

  5. Apik timen…sbg wong wonosobo nyong bangga, contone: pas sekolah (kuliah) nang salatiga basa sing tak nggo tetep basa wonosobo (wadaslintang,-red)

  6. nyong cah wonosobo. nek desane nyong kalibeber.. mancen kaya ngono ka bahasane wong wonosobo dan sekitarnya. sing moroi unik kek ora ogor bahasane tapi karo intonasi pengucapan bahasane tiap desa y bedo-bedo… jejal bae si nek ora ngandel dolan meng desa-desa njur ngomong karo wong desa kono. mesti bedo-bedo….

    wonosobo; kota seribu bahasa

  7. blog ni bjasa bgt bt penelitianku,smg bs lnjut ta trusin jd judul skripsi….

    mksh….

    # cah kalimendong : semoga sukses dengan penelitiannya. klo mau tanya-tanya kosakata bahasa Wonosobo silakan kirim email aja. klo saya bisa bantu InsyaAllah saya bantu🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s