Sate Domba

Mumpung mendekati lebaran haji, saya ingin ngobrol tentang sate domba. Kenapa sate domba, bukan sate kambing? Karena bukan rahasia lagi kalau sate-sate yang dijual pakai judul “sate kambing” ternyata berasal dari daging domba (wedhus gembel).

Sate domba disukai orang karena beberapa alasan, karena rasanya, karena bumbunya, karena aromanya yang mengundang selera, dan satu lagi karena empuknya. Kali ini saya mencoba mengupas dari satu aspek saja, yaitu keempukannya.

Keempukan daging domba yang dibuat sate dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu:

1. Umur domba
Penelitian Veiseth et al. (2004) yang meneliti keempukan domba yang berumur 2, 4, 6, 8 dan 10 bulan menyebutkan bahwa daging domba memiliki keempukan terendah pada daging domba umur dua bulan dan keempukan terus meningkat dengan bertambahnya umur. Puncak dari keempukan adalah pada daging domba umur 8 bulan dan selanjutnya jika dibandingkan dengan daging domba umur 10 bulan sudah tidak ada perbedaan. Selanjutnya, Soeparno (1998) menyebutkan bahwa pada umumnya keempukan daging menurun dengan meningkatnya umur ternak.

2. Pakan ternak
Penelitian Borton et al. (2005) menyebutkan bahwa daging domba yang diberi makan konsentrat lebih palatable(disukai) dibandingkan yang hanya diberi rumput. Parakkasi (1999) menjelaskan bahwa bahan makanan sumber energi sangat efisien untuk pembentukan lemak dalam tubuh. Lawrie (2003) menyebutkan domba akan mengalami peningkatan kadar lemak dengan semakin lama digemukkan, sehingga keempukan meningkat.

Itulah sebabnya, mengapa domba yang dijadikan sate adalah domba muda yang gemuk.

Daftar Pustaka

Borton,R.J., S.C. Loerch, K.E. Mc. Clure dan D.M. Wulf. 2005. Comparison of characteristics of lambs fed concentrate or grazed on ryegrass to traditional or heavy slaughter weights. I. Production, carcass, and organoleptic characteristics. J. Anim. Sci. 83: 679-685.

Lawrie, R. A. 2003. Ilmu Daging. Terjemahan Aminuddin Parakkasi. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Soeparno. 1998. Ilmu dan Teknologi Daging. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Veiseth, E., S.D. Shackelford, T.L. Wheeler, dan M. Koohmaraie. 2004. Factors regulating lamb longissimus terderness are afected by age at slaughter. J. Meat Sci. 68:635-640.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s